“kau adalah mawar yang aku peluk
Terus kupeluk meski durimu melukai ku
Kita bersalah dalam cara yang manis
Saling memperdulikan namun harus terdiam
Kau adalah selamat tinggal yang tertunda
Aku tahu akhir cerita
ini, hanya tak mau tahu
Kita berpegang dalam cara yang muskil
Saling mengingat namun harus melupakan
Kadang bukan rasanya yang harus berhenti
Hanya saja kisah memang harus terhenti
Kita bahagia dalam cara yang menyakitkan
Saling menginginkan namun harus merelakan
(Fiersa Besari)
Patah hati yang paling berkesan, dengan ribuan duri seolah
tertancap di hati, ini memang belum jadi semusim tapi merindukanmu rasanya
seperti menikam kan ratusan pisau belati ke jantungku . Sempat ku katakan pada
orang-orang disekitarku, mengoceh di social media , hingga mengadu pada Tuhan
tentang rasa sakitku pasca kepergian mu. Sampai aku jengah dengan diriku
sendiri ..
Waktu seolah terhenti disini, dimana aku telah sampai di
puncak asa ku . mungkin kamu senang berlari,namun kamu tidak tau lelahnya
berlari ,aku takut kamu lebih senang berlari sampai kamu lupa bahwa aku telah
berhenti jauh hari.
Pepatah mengatakan bahwa ada yang datang, pasti ada yang pergi
. Meninggalkan luka, meninggalkan rasa sakit yang membekas dalam hati. Ini berlaku untuk semua
orang termasuk aku . Seandainya saja kamu tau bahwa melepaskan yang hampir tergenggam itu tidak mudah, tidak akan pernah mudah. Perlu waktu dan butuh ribuan kali
berfikir hingga aku sampai pada penghujung asa ku, hati ini takkan lupa,
takkan pernah bisa. Sama halnya seperti hujan yang pergi meninggalkan genangan,
sementara di saat kamu pergi kamu meninggalkan semua kenangan .
Namun aku percaya aku bisa melewati ini semua, hingga semua
akan kembali menjadi baik-baik saja . Meski semua tak lagi sama tapi mungkin
ini yang terbaik. Aku tidak pernah bisa membencimu, hanya saja aku benci hari-hari yang ku lewati tanpamu. Aku tidak
pernah menyesal pernah menyayangimu, aku hanya menyesal karena ketika kamu memberi separuh hatimu, aku terlalu cepat membalasmu dengan
sepenuh hati ku . Ku harap jangan ada benci apalagi caci, jangan jadikan
perpisahan ini sebagai boomerang yang
membuat kita saling menyakiti .
Kini aku pergi , bukan karena aku sudah lelah menanti ,
bukan pula karena menyerah. Tapi izikan aku untuk menyelamatkan hati ku ini,
biarkan kita mencapai tujuan kita masing-masing . Kita telah dewasa, bukankah
dewasa berarti sanggpup melepaskan dan bisa merelakan ? Jangan anggap ini
perpisahan selamanya , karena meskipun kita berjauhan hati kita tetap bertautan
. Kita masih bisa saling bertemu , dalam doa dalam alunan lagu rindu yang pernah
kita dengarkan bersama .
Bagaimanapun kamu adalah yang selama ini pernah menemani hariku, yang pernah melewati suka dan duka berdua.. sekarang aku harus pergi, tapi suatu saat ingatlah pada satu hal, bahwa kita pernah berjuang bersama-sama .
No comments:
Post a Comment